Jalur Minat Studi 3 Dimensi

Pada Kurikulum 2013 yang berlaku mulai Tahun Akademik 2013/2014 memiliki Jalur Minat Studi 3 Dimensi yang merupakan gabungan dari :

1. Seni Patung
Seni Patung sudah ada sejak jaman paleolitik ketika manusia mulai menyatakan perasaan dan pengalaman hidupnya dalam bentuk tiga matra. Ketika itu patung merupakan penjelmaan dari kepercayaan manusia terhadap kekuatan dan misteri alam yang melingkunginya. Sejak itu peradaban manusia semakin berkembang, usaha menguak misteri alam telah membuka pikiran mereka dari kegelapan pengetahuan sehingga membuka cakrawala baru dalam pengalaman manusia menghadapi hidup di dunia. Seni patung pada mulanya merupakan ungkapan kolektif dari kelompok masyarakat kemudian bergeser kearah ungkapan yang bersifat perorangan. Perubahan dan perkembangan yang menghasilkan berbagai gaya dan bentuk patung dapat dilihat di dalam khazanah seni patung dunia selama berabad-abad. Kenyataan-kenyataan ini merupakan kesadaran abad 20, sebagai era yang penuh dengan eksplorasi, komunikasi dan informasi yang global, sehingga memungkinkan manusia di abad ini secara serentak melintasi pengalaman yang terjadi selama berabad-abad, sehingga perkembangan ilmu pengetahuan dapat diprediksi. Kelengkapan pengalaman ini telah menjadikan abad sekarang sebagai era yang penuh dengan eklektisisme terjadi silang-pengaruh dari berbagai budaya sehingga menghasilkan bermacam gaya dan perupaan serta teori – teori baru.

Pada dasarnya seni patung dapat dikatagorikan dalam 3 jenis teknik pelaksanaan.

  1. Membentuk, atau mematung dengan proses “menambah” dengan menggunakan bahan tanah liat , plastisin, gips dan semen. Bahan-bahan tersebut dapat dibiarkan mengeras (gips, semen), atau dapat juga dicetak dan cor dengan menggunakan bahan (lilin, perunggu, timah, besi atau polyster).
  2. Memahat, atau mematung dengan proses “mengurangi” dengan menggunakan bahan batu atau kayu. Proses ini merupakan kebalikan dari membentuk.
  3. Membangun atau merakit, merupakan teknik yang banyak dipergunakan oleh pematung-pematung sekarang. Pada dasarnya, proses ini adalah mematung dengan cara menyusun atau menyambung benda-benda jadi ataupun bahan-bahan yang sudah berbentuk, meliputi cara mengelas, mematri, melipat dan mengetok. Bahan yang dipakai berupa logam batangan atau lembaran, di samping kayu, plastik dan bahan-bahan sintetik lainnya.

Program pembimbingan seni patung bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang :

  1. Mampu menelaah dan menghayati pengetahuan seni patung untuk peningkatan kepribadian dan wawasannya.
  2. Memiliki kemampuan dan keterampilan berekspresi secara kreatif dengan medium seni patung untuk menghasilkan karya patung yang bernilai tinggi.

Untuk mencapai maksud tersebut, kepada mahasiswa yang diberikan informasi yang lengkap tentang perkembangan seni patung dunia dari awal sampai akhir, dan kecenderungan-kecenderungan di masa mendatang. Dengan informasi ini diharapkan agar para mahasiswa dapat mengembangkan diri berdasarkan keanekaragaman pengetahuan sejarah untuk mencapai kepribadian yang terbuka dan kreatif. Terbuka dalam menanggapi kemungkinan-kemungkinan baru dan kreatif dalam menemukan pandangan-pandangan baru yang searah dengan perkembangan jamannya. Di samping kuliah-kuliah yang berusaha mengembangkan bidang pemikiran, kepada mahasiswa juga diberikan kuliah-kuliah praktek yang berlangsung dalam 4 tahap.

Tahap pertama
berisi latihan-latihan membentuk agar para mahasiswa mempunyai kepekaan terhadap bentuk dan matra. Bahan yang dipergunakan untuk latihan adalah tanah liat yang dianggap luwes,sehingga sebagai pendatang baru mahasiswa dapat dengan leluasa “bermain” dan mempelajari unsur-unsur keruangan sebagai dasar seni patung. Dalam tahap ini kepada mahasiswa juga dikenalkan proses cetak yang merupakan keterampilan penting dalam mematung.

Tahap kedua
mempelajari teknik memahat batu dan kayu. Latihan memahat dapat memberikan keuntungan ganda bagi para mahasiswa ; pertama , mempelajari proses bentuk, kedua, mempelajari hubungan bentuk dan sifat bahan, ketiga, memahami hubungan antar sifat bahan, proses bentuk dan kemungkinannya sebagai medium ungkap.

Tahap ketiga
merupakan eksplorasi teknik dan pemahaman medium. Dalam tahap ini seorang mahasiswa diharapkan sudah mempunyai pengalaman teknik dan bahan yang menyeluruh, sehingga memungkinkannya untuk memilih medium ungkap yang sesuai dengan kecenderungan pribadinya. Di samping itu mereka diharapkan juga dapat memahami bidang seni patung yang memerlukan pemikiran secara antar disiplin, seperti patung monumental atau karya lain yang berhubungan dengan lingkungannya.

Tahap keempat
merupakan tahap pengumpulan dan pematangan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh sebelumnya. Pada tahap ini mahasiswa diharapkan sudah dapat menghayati berbagai medium ungkap dan faham pematungan, sehingga dapat mengembangkan gagasannya ke arah ungkapan yang “asli” dan “benar” mengarah kepada originalitas pribadi.
Setelah melewati masa pendidikan ini, lulusan mempunyai berbagai kemampuan yang dapat disumbangkan kepada masyarakat luas berupa pengembangan diri dibidang teori dan karya – karya yang baru. Sebagai seorang seniman, khususnya bidang 3 matra, diharapkan dapat menyumbangkan ilmunya bagi pengembangan gagasan seni. Di samping itu, sebagai seorang pematung ia dapat menyumbangkan karya seni yang menyatakan sikap pribadinya terhadap “nilai-nilai kemanusiaan”.

                    Lokasi : Gedung Seni Rupa lt. Basement

2. Seni Keramik
Program pembimbingan seni keramik bertujuan menghasilkan sarjana seni yang :
1. Mampu menelaah dan menghayati pengetahuan seni keramik untuk meningkatkan kepribadian dan memperluas wawasan estetisnya.
2. Memiliki bakat dan keterampilan untuk berekspresi dengan medium keramik.

Untuk melaksanakan program pendidikannya, Studio Seni Keramik dilengkapi dengan beberapa tungku listrik dan sebuah tungku minyak untuk pembakaran benda-benda tanah liat mentah hasil studi mahasiswanya. Sebagai bahan mentah utama dipergunakan tanah liat merah Plered yang cukup plastis untuk dibentuk sebagai keramik bakaran rendah (earthenware), sedangkan untuk keramik bakaran tinggi (stoneware) digunakan campuran bahan-bahan lokal lainnya seperti tanah Cipeundeuy (ballclay), tanah Nagreg (kwarsa), tanah Gunung Guruh (yang bisa dibakar lebih dari 1000 derajat celcius), dan bahan lainnya yang mudah diperoleh. Glasir, sebagai bahan perampungan benda keramik, di buat sendiri oleh mahasiswa dengan pengetahuan bahan kimia yang diberikan berupa kuliah-kuliah pengetahuan bahan , praktika dan percobaan-percobaan. Berbagai macam perhitungan glasir memberikan kemungkinan didapatkannya bermacam-macam jenis glasir ; mengkilap, buram, bertekstur dan yang meleleh. Kemungkinan-kemungkinan tersebut dapat digunakan mahasiswa pada karya-karyanya untuk ekspresi diri. Dengan bekerjasama dengan arsitek misalnya, lulusan studio seni keramik dapat berkarya estetis untuk bagian luar bangunan; atau dengan ahli tata ruang ia dapat membuat Karya Estetis Ruang Dalam. Ia pun dapat bekerja sendiri di studionya untuk kemudian berpameran dan menjadi seorang seniman. Untuk mencapai kemampuan optimal dari lulusan, dilakukan pembimbingan dalam beberapa tahap.

Tahap 1: semester III dan IV, mahasiswa diberi gambaran tentang luas lingkup seni keramik. Mengenal materi dan peralatan yang dapat menunjang pembentukan dan teknik pembakaran yang sederhana tetapi tepat.
Tahap II : semester V dan VI, adalah suatu tahap dimana eksplorasi diri mulai ditumbuhkan dan ditingkatkan sedemikian jauh sehingga mahasiswa memperoleh kesesuaian sikap dan cara dalam berkarya sebagai sarana unjuk kemampuan dalam mewujudkan setiap gagasan estetisnya.
Tahap III : semester VII dan VIII, adalah tahap akhir yang merupakan tahap pematangan diri dan merupakan pula tahap pembuktian dimana kemampuan teknis telah menyatu dalam cipta karya yang bermutu seni

                          Lokasi : Gedung Seni Rupa Lt.1 (dasar)